Susunan Personalia Pengcab IPSI Belitung

SUSUNAN PERSONALIA PENGURUS CABANG

IKATAN PENCAK SILAT INDONESIA (IPSI)

KABUPATEN BELITUNG

MASA BHAKTI 2005 – 2009

 

 

Dewan Pembina

:

-

-

-

Kajari Tanjungpandan

Ir. Hermanto

Devan Astika

 

 

Dewan Penasehat

:

-

-

-

-

-

 

Hidayat

Anas Nasito, SH

Warsono, WD

Moh. Zubir, SIP.

Syarifudin

 

-

-

-

-

 

Drs. F.X. Maryanto

Juhri, AMd.

Abdul Kodir, Amd.

Kusminto

 

Dewan Pendekar

:

-

-

-

-

-

-

Wijiutomo

Agus Wardono

Ramli Ali

Faruk, Amd.

Khoirudin AW

Ardiansyah A.

 

 

*Ketua

Wakil Ketua

Sekretaris

Wakil Sekretaris

Bendahara

:

:

:

:

:

Sahani Saleh, BA

Nurul Izzatullah El Yunusi, ST

Riza Aprian, STP

Fithrorozi, S.Kom, M.E

RosM.mala Dewi

 

 

Biro dan Lembaga :

1. Biro Organisasi

 

-

-

 

Ketua

Anggota

 

:

:

 

-

-

Hariman

Firmawan, STR

Haryanto

 

 

2. Biro Pembinaan dan Prestasi

 

-

-

 

Ketua

Anggota

:

:

 

-

-

-

M. Fazaldin

Ardiansyah

Billy Angkara

Wanda Yodiniwansyah

 

3. Biro Pembinaan Seni Budaya

 

-

-

 

Ketua

Anggota

:

:

 

-

-

Ismail Mihad

Bambang D

Susanti

 

 

4. Lembaga Wasit Juri

 

-

-

 

Ketua

Anggota

 

:

:

 

-

-

-

-

-

-

Vulta Yohanes

Kusnoardi

Mahdani

Tepok

Ambonis

Hamdana

Yagiantoro, S.Ag.

 

-

-

-

-

-

-

 

Dedy Triswantoro, AMd.

Samiran

Tusirin

Suherman

Ahmad Rifani

Sudirman

 

5. Lembaga Pelatih

 

-

-

 

Ketua

Anggota

 

 

:

:

 

-

-

-

-

-

Budi Hartono, SE

Baharrudin

Vulta Yohanes

Iswandi

Ahmad Rifani

Elza Fikrian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengda IPSI Babel mengukuhkan Kepegurusan Pengcab IPSI Belitung Periode 2005-2009

Tanjungpandan (WP), “Meski terlambat tetapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali “ ujar Ketua Pengda IPSI Prov babel Drs.HA.Huzarni Rani, Msi ketika mengukuhkan Personalia Pengurus Cabang IPSI Kabupaten Belitung Periode 2005-2009. Susunan kepengurusan ini mengacu kepada mekanisme konsolidasi atau resuffle di tubuh Pengcab IPSI. Tentunya ada banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan ini baik dari Pengcab maupun dari Pengda” kata Ketua Pengda IPSI Huzarni Rani bijak.

 

Sesuai dengan Keputusan Ketua Umum Pengurus Daerah IPSI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Nomor Skep-003/III/2008 tanggal 2 Juli 2008  berdasarkan rekomendasi KONI Kabupaten Belitung nomor 020/REK/BLT/II/2008 atas hasil konsolidasi Pengurus Cabang IPSI  Kabupaten Belitung tanggal 26 Februari 2008 yang lalu.  Menurut salah seorang Dewan Penasehat yang tidak ingin disebutkan namanya menjelaskan bahwa pengukuhan ini juga dilatarbelakangi ke-vakum-an kegiatan organisasi yang merasa perlu segera disikapi.

 

Kami percaya saudara-saudara akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya serta akan mengembangkan olah raga pencak silat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada umumnya dan di Kabupaten Belitung pada khususnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan, kata Huzarni dalam Berita Acara Pengukuhan.

 

Dengan semakin berkembangnya pencak silat di Kabupaten Belitung, Pengcab IPSI Kabupaten Belitung dituntut untuk melakukan pembinaan kesetiap perguruan. Ini menuntut kerjasama dilingkungan internal sendiri selain tugas untuk mengantarkan atlet pencak silat ke jenjang prestasi baik di tingkat provinsi maupun tingkat nasional sebagaimana yang selalu ditekankan Ketua Pengcab IPSI terpilih Sahani Saleh, BA.

 

Hal senada juga disampaikan Plt.Bupati Belitung melalui Asisten I Bidang Pemerintah Ir.Hermanto yang menekankan perlunya konsolidasi internal dalam tubuh IPSI agar pembinaan dan peningkatan prestasi atlet pencak silat sebagai salah satu tujuan utama pengukuhan ini dapat tercapai.

Ketua Lembaga Adat Belitung H.Sjachroelsiman memimpin  doa memanjatkan doa agar organisasi ini terhindar dari bibit-bibit perpecahan, perbedaan yang ada merupakan rahmat yang justru perlu disyukuri “

 

Dalam kesempatan ini Ketua Pengda Drs.H.A Huzarni Rani MSI mengukuhkan Dewan Pembinan, Dewan Penasehat, Dewan Pendekar, Ketua Pengcab Sahani Saleh,BA), Sekretaris (Ketua Riza Aprian,STP), Bendahara (Nurmala Dewi). Selain itu dikukuhkan Biro dan Lembaga Organisasi yang terdiri dari Biro Organisasi (Ketua Hariman), Biro Pembinaan dan Prestasi (Ketua M.Fazaldin), Biro Pembinaan Seni Budaya (Ketua Ismail Mihad), Lembaga Wasit Juri yang diketuai Vulta Johanes dan Lembaga Pelatih yang diketuai Budi Hartono,SE. Pengukuhan 49 orang kepengurusan ini didasarkan pada Surat Keputusan Pengda IPSI Provinsi Bangka Belitung  Nomor :  Skep-003 / VII/ 2008 Tentang  Pengukuhan Susunan Personalia Pengurus Cabang Ikatan Pencak Silat Indonesia Kabupaten Belitung Masa Bhakti 2005-2009 yang dibacakan Sekretaris Pengda IPSI Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Edi Sunardi di Gedung Nasional Tanjungpandan, Belitung

 

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Koni Kabupaten Belitung, unsur Kejaksaan Negeri Tanjungpandan, Polres juga Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Belitung dan menghadirkan 6 atlet pencak silat yang akan berlaga di Pekan Olah Raga Pelajar (POPDA 2008.)

 

Acara yang berlangsung di Gedung Nasional pada pukul 20:00 wib ini selain dimeriahkan atraksi atlet pencak silat juga mementaskan tarian Permainan Anak dari Sanggar Tari Serunai. Paduan Suara Gema Nurani Maitreya yang membawakan lagu “Petuah Nenek Moyang “ karya Budayawan Abdul Hadi

Suara suka cita pun menggema di ruang Gedung Nasional, mengingat masa-masa kecil, polos yang belum terkontaminasi dengan hasrat kepentingan ketika dua penyanyi menyanyikan lagu Pok-pok gerinang. Rangkaian acara hiburan yang dikoordinir oleh Lembaga Pembinaan Seni Budaya  Pengcab IPSI Ismail Mihad ini juga menampilkan tarian “Gawai Urang Sekubong “ dari Sanggar SMAN 2 Tanjungpandan dengan penata tari Surtiyah SSn  dan penata musik Basri,Spd (fithrorozi).

Tapak Suci Juara Umum Wiralaga 2008 Pengcab IPSI Belitung

Tanjungpandan (WP), Pengcab Belitung telah menyeleksi 32 atlet putra dan yang berlaga pada dua  kategori yakni Wiralaga dan Wisangga.  “Kepengurusan Pengcab IPSI Kabupaten Belitung sudah mulai baik karena sudah mulai memperhatikan prestasi atlet-atlettnya dengan mengadakan kejuaraan seperti ini. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus diadakan”, kata Elsa Fikrian, pelatih dari Perguruan Tapak Suci .

 

 

 

Ketua Pengda IPSI, Drs, Hudarni Rani melalui Wakil Ketua Ir.Hermanto menyambut baik penyelenggaraan ini. Pada acara Penutupan Seleksi Kejurda Pencak Silat Golongan Dewasa 2008 di GOR Tanjungpandan Minggu malam (22/6). Ir.Hermanto berharap kegiatan ini juga memperkuat tali  persaudaraan dan solidaritas insan pencak silat di Kabupaten Belitung.

 

Silat mengacu pada prinsip Sholat yang menekankan adab, pola dan jiwa insan pencak silat. Adab ini tidak saja dimiliki oleh atlet Pencak Silat, tetapi juga oleh wasit/juri serta  panitia pelaksana. Selain membina atlet,  kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan wasit/juri sebagaimana yang maksud dan tujuan diadakannya Sosialisasi Wasit/Juri yang lalu.

 

Kegiatan ini merupakan pelaksanaan dari Program Kerja IPSI Pengcab Belitung periode 2008-2013. Selain melaksanakan program kerja dan kegiatan pembinaan kepada setiap perguruan pencak silat. IPSI Pengcab Belitung juga meluncurkan situs website sebagai media komunikasi dan informasi sehingga Pengurus Besar IPSI  ataupun Pengda IPSI Bangka Belitung dapat memantau kinerja IPSI Pengcab Belitung.

 

Setelah pembacaan kata Sambutan dari Pengda Bangka Belitung, Ir.Hermanto didampingi Ketua IPSI Pengcab Belitung  Sahani Saleh,BA menyerahkan Tropi Juara Umum kepada Perguruan Silat Tapak Suci. Juara Umum II diraih oleh Perguruan Silat Persinas Asad dan Juara Umum III diraih Perguruan Silat  Trisula Merah Bara (PS.Trimeba).

 

IPSI Pengda Bangka Belitung maupun IPSI Pengcab Belitung menyampaikan rasa terimakasih kepada KONI Kabupaten Belitung yang telah mendukung moril maupun materi hingga terlaksananya kegiatan Seleksi Kejuaraan Daerah Pencak Silat oleh IPSI Pengcab Belitung ini.

Nurul Izzatullah, Ketua Penyelenggara mengumumkan juara masing-masing kelas yang dipertandingkan. Juara Kelas A Putra Afriansyah (PS.Tapak Suci), Kelas B Putra Muhammad Lalu Satriadi (PS.Tapak Suci), Juara Kelas C Putra Meryadi (PS.Setia Kawan) , Kelas D Putra (Ade Chandra (PS.Tapak Suci), Kelas E Putra Ghofan (Persinas Asad) dan Juara Kelas F Putra juga dimenangkan oleh pesilat dari Persinas Asad.

 

Sementara Kelas Wisarangga Putra dijuarai oleh Jentop (PS.Belalang Putih) dan Wirasangga Putri, Leni (PS.Trimeba). Selain ini dipertandingkan partai eksibisi yang dimenang oleh Puput (Persaudaraan Setia Hati Terate) dan Rinda dari Persaudaraan Setia Hati Terate (fithrorozi).

 

 

Pengcab IPSI Belitung gelar Seleksi Atlet Wiralaga & Wirasangga

Diposting oleh Fithrorozi

 

Delapan perguruan pencak silat yang ada di Kabupaten Belitung, yakni  Persaudaraan Setia Hati (PSHT), PS. Dikapasita, PS. Trimeba (Trisula Merah Bara), PS.Belalang Putih, PS.Tapak Alam, PS.Tapak Suci, Persinas Asad dan   PS.Setia Kawan mengucapkan janji atlet dan janji wasit juri pada acara pembukaan Seleksi Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pencak Silat Pengurus  Cabang  (Pengcab) Belitung.

 

Pelaksanaan Seleksi Kejurda ini mengacu pada Program Kerja Pengurus Cabang  IPSI Kabupaten Belitung dan Hasil Keputusan Rapat Pleno Pengcab IPSI Kabupaten Belitung pada tanggal 21 Mei 2008 yang lalu. Seleksi ini dilaksanakan selama 4 (empat) hari dari tanggal 19 hingga 22 Mei 2006 mulai pukul dari jam 14 hingga 23.00 wib di GOR Tanjungpandan.

 

Letkol (Purn) Faizal Madani selaku Ketua KONI Kabupaten Belitung  menyampaikan sambutan Ketua Umum KONI, Ir.Darmansyah Husein. Faizal didampingi didampingi Ketua Pengcab IPSI Belitung Sahani Saleh memukul gong sebagai tanda dimulainya Seleksi Pencak Silat Golongan Dewasa 2008  yang mempertandingkan  kategori Wiralaga (fighter) dan Wirasangga (seni pencak silat Tunggal Ganda Regu). Masing-masing perguruan mendaftarkan 1 atlet pada setiap kelas.

 

Dari 10 kelas yang dijadwalkan hanya mempertandingkan 6 (enam) kelas yakni kelas A (45-50 kg), kelas B (50-55 kg), kelas C (55-60 kg) kelas D, (60-65kg) kelas E (65-70 kg) dan kelas F (70-75kg) kelompok putra dan putri kecuali kelas F yang hanya diikuti kelompok putra.

 

Pada hari pertama (19/6) akan dipertandingkan 10 partai. Ketua Pertandingan, Fazaldin mengatakan kegiatan ini merupakan komitmen mengikuti Kalender PB. IPSI  yang diagendakan oleh  Pengda Provinsi Babel.

 

Vulta Yohanes selaku Ketua Lembaga Dewan Juri dalam Sosialisasi Wasit Juri, senin malam (17/6)  menekankan bahwa silat mengacu pada sholat. “Jadi kita tidak boleh menyerang orang yang teraniaya” jelasnya didepan perwakilan perguruan yang akan menjadi wasit juri. Sosialisasi ini antara lain ditujukan menghindari sengketa penilaian di lapangan nanti, tegas Pupung, panggilan akrab Vulta Yohanes. Saat ini Pengcab IPSI Belitung  memiliki 4 (empat) wasit bersertifikat Pengda,  Vulta Yohanes, Mahdani, Dedi K. dan Yogiantoro ditambah 18 wasit juri tingkat Pengcab.

 

Ketua Pelaksana, Nurul Ihzatullah  mengatakan seleksi ini merupakan gerbang prestasi atlet untuk ke tingkat yang lebih tinggi lagi (Kejuaraan Daerah Pencak Silat Tingkat Provinsi). Selain itu kita harapkan kegiatan ini dapat meningkatkan silaturahmi dan persaudaraan sesama warga perguruan-perguruan pencak silat se-Kabupaten Belitung, tambah Nurul.

 

 

MENGENAL SENI RUDAT

Diposting oleh: Fithrorozi

Banyak masyarakat Belitong yang menhubungkan seni rudat dengan seni betiong, meski rudat dan betiong memiliki karakter sendiri. Ini tak lain dari pengaruh dari lirik kagu daerah Maras Taun. Maras Taun sendiri memang dikenal masyarakat sebagai pentas aneka seni tradisional yang ditujukan untuk menghibur masyarakat petani

Secara etimologis rincian istilah rudat belum di temukan secara jelas. Tapi menurut Iyus Rusmana istilah ini bisa di cari dari bahasa arab rudatun yang artinya taman bunga. Dalam hal ini berarti bunga nya pencak. Sedangkan menurut Enoch Atmibrata, rudat tarian merupakan tarian di iringi oleh musik terbangan di mana unsur tarian nya banyak kental dengan nuansa agama, seni bela diri, dan seni suarana .

Dalam penjelasan lain dikatakan bahwa rudat adalah sejenis kesenian tradisional yang semula tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren. Seni rudat merupakan seni gerak dan fokal di iringi tabuhan ritmis dari waditra sejenis terbang. Syair – syair yang terkandung dalam nyanyaian nya bernafaskan kegamaan, yaitu puja – puji yang mengagungkan Allah, Shalawat dan Rosul. Tujuannya adalah untuk menebalkan iman masyarakat terhadap Agama Islam dan kebesaran Allah. Sehingga manusia bisa bermoral tinggi berlandasan agama islam dengan mendekati diri kepada Allah SWT. Dengan demikian seni rudat adalah panduan seni gerak dan vokal yang di iringi musik terbangan di mana di dalam nya terdaapat unsur ke agamaan, seni tari dan seni suara .

FUNGSI

Petunjuk seni terbang ( termasuk rudat ) pada mulanya bertujuan untuk penyabaran agama islam yang di laksankan pada setiap acara mauludin, yaitu upacara memperingati hari lahir nya Nabi Muhammad SAW, Rajaban (memperingati isro mi’raj), Hari Raya Idul Fitri dan Hari besar Islam lainnya. Pada perkembangan berikutnya seni rudat biasa di pertunjukan dalam acara hiburan di lingkungan pesantren, upacara perkawinan atau khitanan. Seni rudat di Banten sudah ada sejak abad XVI sejak jaman Sultan Ageng Tirtayasa dan kemudian bekembang di pesantren – pesantren sebagai hiburan atau pergaulan para santri pada waktu senggangnya dengan nyanyian yang isinya memuji kebesraan allah swt sambil menari dengan gerak pencak silat . Tarian ini di lakukan oleh laki laki pada mulanya , tapi sekarang di Banten di lakukan oleh para wanita.

PEMAIN DAN WADITRA Jumlah pemain rudat berkisar antara 12 sampai 24 orang mulai menabuh waditra/ alat sebagai penari dan sebagai penyanyi. Waditra yang di gunakan tersebut dari bahan – bahan yang ada di lingkungan jenis. Waditranya adalah berbentuk bulat seperti tampayan. Cara menggunakan alat ini dengan di pukul. Tojo, berbentuk bulat seperti tempalan , terbuat dari kayu dan kulit kerbau Cara menggunakan alat ini dengan di pukul – pukul sebagai pokok lagu atau melodi . Nganak, berbentuk bulat seperti temppayan , terbuat dari kayu dan kulit kerbau , memiliki ukuran muka dengan garis tengah 37 cm dan garis tengah belakang 27 cm. Jidor, berbentuk bulat seperti bedug , terbuat dari kayu dan kulit kerbau. Ukuran garis tengah belakangnya 44cm , dan tingginya 47cm.

POLA PERMAINAN Dari segi geraknya rudat menggunakan gerakan silat , namun dalam rudat unsur tenaga tida banyak mempengaruhi. Lagu rudat hampir sebagian besar bernafaskan keagamaan. Sedangkan gerakannya terdiri dari gerakan kaki yang serempak ketika melangkah kedepan, belakang dan samping yang melambangkan kebersamaan langkah dan keserasian bentuk kareografi. Kaki, terdiri dari gerak kuda-kuda, adeg- adeg, masekon rengkuh, duku depok dan lain-lain. Tangan, terdiri dari gerak mengepel, tonjok, gibas meupeuh , keprok kepret . Kepala, mengikuti arah tangan yang bergerak yaitu ke seluruh arah. Beberapa gerakan antaralain yang dalam seni rudat antaralain gerakan nonjok , yaitu kaki kanan melangkah ke depan dengan posisi kuda-kuda dan tangan kiri mengepal sementar a kepala lurus ke depan. Gerakan gibas , yaitu kaki kanan tegak lurus. Tangn kiri menekuk dengan arah gerak ke kanan. Kepala ke arah kanan dan membalik langsung ke kiri.

BUSANA SENI RUDAT Dalam menyajikan kesenian rudat penari menggunakan kostum seragam yang menandakan bahwa mereka harus hidup rukun dengan tetangga. Ada pun bentuk kostumnya terdiri dari busan pria; Celana pangsi hitam , baju putih , selendang, kain samping batik , dan tutup kepala.

Diambil Dari buku kumpulan Seni dan Buday Banten; Dinas Pendidikan Provinsi Banten

http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=1191

Sejarah Singkat TAPAK SUCI

Diposting oleh Fithrorozi

 

 

 

Pra Sejarah

Pra-sejarah Tapak Suci telah dimulai sejak lahirnya seorang putera dari K.H. Syuhada, yang bernama Ibrahim, pada tahun 1872 di Banjarnegara (Jawa Tengah). Di usia remaja kemudian Ibrahim belajar pencak. Pemuda Ibrahim kelak kemudian dikenal sebagai pemuda yang aktif dan berani apalagi dalam menentang penjajahan Belanda. Dengan berbekal ilmu pencaknya, pemuda Ibrahim kerap mengganggu dan melakukan perlawanan terhadap Belanda.

 

Pernah pula suatu kali pada saat sedang pertunjukkan wayang di kediaman seorang cina bernama Djin Sang, terjadi keributan yang mana Ibrahim muda akhirnya bertarung melawan seorang jago tinju berkebangsaan Belanda yang amat sombong. Pertarungan ini dimenangkan oleh Ibrahim. Dengan pencak silatnya itu Ibrahim kerap membuat masalah dengan tentara Belanda, sehingga tak ayal hal Ibrahim sering menjadi buronan Belanda.

 

KH. Syuhada pun tak segan-segan memberi hukuman kepada Ibrahim dengan maksud agar Ibrahim dapat “melunak” terhadap Belanda sehingga tidak menyulitkan dirinya dan keluarga. Bahkan sebagai buronan Belanda, Ibrahim sempat dilarikan ke Batavia oleh ayahnya untuk diasuh oleh seorang kerabatnya yang waktu itu memiliki kedudukan yang terhormat di Batavia. Namun di Batavia sikap Ibrahim yang anti Belanda itu tidaklah surut. Terlebih di Batavia karena merasa kerabatnya memiliki kedudukan dan jabatan terhormat, Ibrahim tetap sering membuat masalah dengan Belanda. Lagi-lagi hal ini membuatnya menjadi buronan Belanda di Batavia.

Suatu ketika tercetus niat Ibrahim untuk berangkat Haji. Selain karena keinginan untuk menimba ilmu agama agar lebih dalam, hal ini juga dikarenakan Ibrahim tidak ingin kedudukan dan karir kerabatnya di Batavia itu terganggu karena ulahnya yang tidak mau kompromi dengan tentara-tentara Belanda. Maka berangkatlah Ibrahim ke tanah suci.

 

Sepulangnya dari tanah suci, Ibrahim telah menyamarkan identitasnya dengan mengganti namanya menjadi Busyro Syuhada. Sejak itulah orang mengenalnya sebagai KH. Busyro Syuhada. Kemduian setelah menikah dengan puteri KH. Ali, Ibrahim kemudian mendirikan Pondok Pesantren Binorong di Banjarnegara. Tak hanya Ibrahim saja yang mengganti namanya, namun juga termasuk adiknya. M. Yasin.

 

Pondok Pesantren Binorong, berkembang pesat, diantara santri-santrinya antara lain : Achyat (KH. Burhan) adik misan Ibrahim, M. Yasin (Abu Amar Syuhada) adik kandung, dan Sudirman.

Tahun 1921 dalam konferensi Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta, KH. Busyro bertemu pertama kali dengan dua kakak beradik; A. Dimyati dan M. Wahib. Diawali dengan adu kaweruh antara M. Wahib dengan KH. Burhan, selanjutnya A. Dimyati dan M. Wahib mengangkat KH. Busyro sebagai guru.

 

Cikauman
Aliran Banjaran, yang pada awalnya dikembangkan melalui Pondok Pesantren Binorong akhirnya pindah ke Kauman, seiring dengan berpindahnya KH. Busyro ke Kauman, Yogyakarta. Selanjutnya atas restu Pendekar Besar KH. Busyro, A. Dimyati dan M.Wahib diizinkan untuk membuka perguruan dan menerima murid. Pada tahun 1925 dibukalah Perguruan Pencak Silat di Kauman, dengan mana CIKAUMAN. Pada waktu itu digariskan dengan tegas dasar yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua murid-muridnya, yaitu:

  1. Cikauman berlandaskan Al Islam dan berjiwa ajaran KH.Ahmad Dahlan, membina pencak silat yang berwatak serta berkripadian Indonesia, bersih dari sesat dan sirik.
  2. Mengabdikan perguruan untuk perjuangan agama serta bangsa dan negara.
  3. Sikap mental dan gerak langkah anak murid harus merupakan tindak-tanduk Kesucian.

 

Perguruan Cikauman (Kauman-Banjaran), dipimpin langsung oleh Pendekar Besar M. Wahib dan Pendekar Besar A. Dimyati, dengan paket keilmuan berupa 15 jurus, 5 kembangan, dan ke-Tauhid-an. Murid angkatan pertama perguruan Kauman ini adalah M. Djuraimi (Mbah Djur) dan M. Syamsuddin. Kehandalan M. Syamsuddin terletak pada permainan sabetan kaki dan tangan. Hal ini ditunjang oleh postur tubuh M. Syamsuddin yang kekar, karena selain gemar pencak M. Syamsuddin juga seorang pemain sepak bola yang handal, berasal dari klub “JOR HW”.

Setelah dinyatakan lulus dari Perguruan Cikauman, M. Syamsuddin diizinkan untuk menerima murid dan selanjutnya mendirikan Perguruan SERANOMAN.

 

Seranoman
Perguruan Seranoman melahirkan seorang Pendekar bernama M. Zahid, anak murid Seranoman yang berotak cemerlang dan berkemampuan tinggi, serta pergaulannya luas. Kehandalan M. Zahid bertumpu pada ketajaman gerak. Selain itu beliau berhasil mengembangkan dari 5 menjadi 8 Kembangan, dan berhasil merancang pengajaran keilmuan sehingga keilmuan pencak mudah untuk dimassalkan. Namun sayangnya beliau berpulang ke Rahmatullah sehingga belum sempat mendirikan perguruan baru. Sekalipun begitu M. Zahid sempat melahirkan seorang murid berbakat, yaitu Moh. Barie Irsyad. Selanjutnya Moh. Barie Irsjad dibina langsung oleh A. Dimyati dan M. Wahib. Tercatat pula beberapa nama yang juga masih merupakan anak murid Cikauman, yaitu M. Djami’at Dhalhar yang juga pemain sepak bola Nasional, M. Wasthon Sujak dan Bakir Ordus

 

Pada perkembangan selanjutnya Moh. Barie Irsyad diarahkan untuk menghadapi aliran-aliran hitam. Puncaknya adalah tantangan adu kaweruh melawan aliran hitam dengan taruhan siapa yang kalah harus pergi (terusir) dari Kauman. Di bawah kesaksian Pemuda Muhammadiyah ranting Kauman, pada suatu malam — tepatnya tengah malam, bertempat di pelataran Mesjid Gede Kauman, Yogyakarta, berlangsunglah pertarungan tersebut. Atas izin Allah SWT, seluruh murid menyaksikan bahwa yang bathil tidak akan dapat mengalahkan yang haq. Moh. Barie Irsyad berhasil melumpuhkan ilmu sihir dari aliran hitam.

Pada waktu di bai’at Pendekar Moh. Barie Irsyad berhasil mempertanggung jawabkan 11 Kembangan. Lalu Pendekar Moh. Barrie Irsyad, sebagai murid angkatan ke-6 yang telah dinyatakan lulus dalam menjalani penggemblengan oleh Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati, kemudian diberi restu untuk menerima murid. Moh. Barie Irsyad kemudian mendirikan Perguruan KASEGU.

 

Kasegu
Nama Kasegu diambil dari Segu atau Kasegu, yaitu senjata khas yang berlafadz “MUHAMMAD”, diciptakan oleh Pendekar Moh. Barrie Irsyad. Selanjutnya Segu menjadi senjata khas Perguruan TAPAK SUCI. Kasegu juga bermakna “KAuman SErba GUna”. Pada selanjutnya ada orang yang menyebutnya sebagai Kasegu Badai Selatan (mengingat operasionalnya berpusat di bagian selatan Kauman).

Selanjutnya, dalam angkatan ketujuh ini tercatat antara lain:

  1. Murid Cikauman (murid langsung Pendekar M. Wahib): Achmad Djakfar, Moh. Dalhar Suwardi, M. Slamet.
  2. Murid Seranoman (murid langsung Pendekar M. Syamsuddin):M. Zundar Wiesman dan Anis Susanto.
  3. Murid Kasegu (murid langsung Pendekar Moh.Barie Irsyad): Irfan Hadjam, M. Djakfal Kusuma, M. Sobri Ahmad, dan M. Rustam Djundab.

Murid angkatan ketujuh ini mulai berlatih di tahun 1957, biasanya empat kali seminggu mulai pukul delapan (ba’da Isya) sampai mendekati Shubuh.

 

Lahirnya TAPAK SUCI

Atas desakan murid-murid kepada Pendekar Moh. Barie Irsyad, muncullah gagasan untuk mendirikan satu perguruan yang mengabungkan perguruan yang sejalur (Cikauman, Seranoman dan Kasegu). Namun untuk itu mestilah mendapat dukungan. Atas izin Allah SWT, Pendekar Besar M. Wahib dan para sesepuh aliran pun akhirnya memberikan restunya. Itupun setelah melalui pembuktian-pembuktian keilmuan yang diselenggarakan berkali-kali, dengan pengertian bahwa kelahiran perguruan yang baru kelak bukanlah merupakan suatu aliran yang baru melainkan tetap berakar dari aliran Cikauman (Banjaran-Kauman).

 

Pendekar Besar H.M. Barie Irsjad

Beberapa ulama dan aktifis Muhammadiyah pun mendukung pendirian perguruan yang dinanti-nantikan ini dengan harapan kelak perguruan pencak yang terorganisir ini dapat menjadi wadah pengkaderan dan wadah silaturahim para ahli pencak di lingkungan Muhammadiyah.

Berbagai perangkat organisasi pun telah disiapkan, antara lain:

  • Nama Perguruan dirumuskan dengan mengambil dasar dari ajaran Perguruan Kauman, maka ditetapkan nama TAPAK SUCI.
  • Tata tertib upacara disusun oleh Moh. Barie Irsyad.
  • Doa dan Ikrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma.
  • Lambang Perguruan diciptakan oleh M. Fahmie Ishom.
  • Lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Sujak.
  • Lambang Tim Inti Kosegu dibuat oleh Ajib Hamzah.
  • Bentuk dan warna pakaian ditentukan oleh M. Zundar Wiesman dan Anis Susanto.

 

Kemudian, atas izin dan restu Allah SWT telah menjadi suatu kenyataan sejarah bahwa pada tanggal 31 Juli 1963 di Kauman, Yogyakarta, TAPAK SUCI telah ditakdirkan untuk lahir dan berkembang di seluruh Nusantara dan kelak meluas ke mancanegara, untuk menjadi pelopor pengembangan pencak silat yang methodis dan dinamis. Semuanya ini berkat kebesaran jiwa para Pendekar pendahulu (sesepuh) yang mampu memandang jauh ke depan. Tapak Suci adalah amanat dari Pendekar-pendekar Cikauman (Kauman-Banjaran) kepada generasi penerus bangsa untuk dipelihara, dibina, dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

Pada waktu lahirnya Tapak Suci, telah digariskan bahwa:

  1. Tapak Suci berjiwa ajaran KH. Ahmad Dahlan
  2. Keilmuan Tapak Suci bersifat Methodis dan Dinamis
  3. Keilmuan Tapak Suci bersih dari syirik dan menyesatkan

 

Pasca Kelahiran

Tahun-tahun 1960-an kita ketahui bahwa gerakan komunis di Indonesia telah semakin menjadi-jadi di seluruh pelosok negeri. Mereka mengintimidasi kaum Muslim dan menggerogoti kesatuan Bangsa. Hal ini terjadi juga di Kauman. Tak sedikit anak-anak Kauman yang diganggu, sekalipun Kauman sudah menjadi perkampungan Muslim. Maka kehadiran Tapak Suci memberi rasa aman bagi kaum Muslim di situ. Masa-masa awal ini adalah masa-masa perlawanan terhadap gerakan Komunis yang terampil dalam mengintimidasi, menfitnah, dan merusak. Saat itu konsentrasi beladiri Tapak Suci secara otomatis diarahkan untuk menghadapi gerakan komunis. Syukurnya, gerakan melawan komunis inipun juga diikuti oleh kelompok-kelompok pemuda yang kemudian membentuk sel-sel (kelompok) tersendiri di kampung-kampung lain, seperti Benteng Melati di Kampung Kadipaten, Perkasa di Kampung Suronatan, termasuk M. Djuraimi kelak membentuk perguruan Eka Sejati di Kampung Karangkajen, yang seolah sebagai sel dari gerakan di Kauman.

 

Waktu itu pergaulan Tapak Suci memang tidak terbatas pada segelintir kelompok seprofesi atau se-persyarikatan (Muhammadiyah) saja. Insan Tapak Suci banyak pula yang aktif di organisasi kepemudaan lainnya, terutama memang ketika umat bersatu melawan komunis. Maka tak heran Tapak Suci yang “Putera Muhammadiyah” waktu itu banyak bergaul dengan HMI yang kerap disebut “anak Umat”. Oleh surat kabar PKI, Tapak Suci dikatakan sebagai onderbow dan tukang pukul HMI, dikarenakan Tapak Suci membina Korba HMI dan sering tampil dalam kegiatan HMI. Disebutkan pula dalam riwayat bahwa salah seorang pahlawan Ampera dari Yogyakarta, Aris Margono, adalah seorang anggota Tapak Suci dan aktif di HMI, yang kemudian gugur di Yogyakarta ketika memperjuangkan Amanat Penderitaan Rakyat

 

Kiranya sepak terjang pemuda-pemuda Tapak Suci yang ikut menggalang kekuatan dalam melawan komunis, ternyata juga diharapkan kehadirannya di daerah-daerah lainnya. Terlebih jika daerah itu merupakan kampung umat Muhammadiyah, atau pun karena Tapak Suci dibawa oleh aktifis perguruan keluar daerah, sehingga permintaan untuk dibuka latihan TAPAK SUCI semakin meningkat. Maka hal inilah yang kelak mendorong lahirnya Tapak Suci di daerah-daerah. Seiring dengan itu masuklah beberapa ahli pencak yang berada di lingkungan Muhammadiyah ke dalam Tapak Suci. Hal ini tentu semakin menyemarakkan gegap gempita Tapak Suci dari sisi organisasi dan keilmuan. Perguruan Tapak Suci yang awalnya hanya di Yogyakarta akhirnya berkembang keluar Yogyakarta dan masuk ke daerah-daerah lainnya.

 

Setelah meletusnya pemberontakan G30 S/PKI, Tapak Suci kembali ke sarang dan berkonsetrasi kembali pada organisasi. Di tahun 1966 diselenggarakan Konferensi Nasional I TAPAK SUCI yang dihadiri oleh para utusan Perguruan Tapak Suci yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

 

Pada saat itulah berhasil dirumuskan pemantapan organisasi secara nasional, dan Perguruan Tapak Suci dikembangkan lagi namanya menjadi Gerakan dan Lembaga Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH.

 

Sejak Konferensi Nasional I TAPAK SUCI ini mulai digunakan sebutan PENDEKAR. Pasca Konferensi Nasional I ini tingkat pendidikan di TAPAK SUCI adalah:

  1. Siswa Satu, Siswa Dua, Siswa Tiga, Siswa Empat.
  2. Asisten Pelatih, Pelatih Muda, Pelatih Kepala.
  3. Pendekar.

Kepada asisten pelatih dilakukan ujian dengan mempertanggung jawabkan karya tulis disamping karya nyata, sebagai manifestasi dari tradisi “adu kaweruh” yang sudah dipelopori oleh para leluhur TAPAK SUCI. Tradisi Karya Tulis/Karya Nyata sampai sekarang masih berlaku sebagai prasyarat ujian kenaikan tingkat Kader dan Pendekar TAPAK SUCI.

 

Sesungguhnya sejak tahun 1964 secara de-facto TAPAK SUCI sudah menjadi gerakan Muhammadiyah. Banyak ulama dan pimpinan Muhammadiyah baik di Yogyakarta maupun di daerah-daerah menerima dan mendukung atau bahkan membutuhkan Tapak Suci. Selain itu puncak pimpinan Muhammadiyah seperti H. Djarnawi Hadikusuma duduk sebagai Penasehat, dan HR. Haiban Hadjid sebagai Ketua Umum Perguruan TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH. Namun barulah pada Sidang Tanwir Muhammadiyah di tahun 1967 yang diselenggarakan di Gedung Pesantren ‘Aisyiyah, Kauman, Yogyakarta, TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH ditetapkan secara resmi menjadi organisasi otonom ke-11 di lingkungan Muhammadiyah. Kala itu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah K.H. Ahmad Badawi, seorang pimpinan Muhammadiyah yang berwawasan luas dan bijaksana. KH.Ahmad Badawi memandang bahwa TAPAK SUCI sangat efektif sebagai tempat pembinaan Kader Muhammadiyah.

 

Prestasi olahraga dan seni

Dalam Kejuaraan Nasional I Tapak Suci tahun 1967 di Jember, pertandingan Pencak Silat Tapak Suci dilaksanakan dengan pertarungan bebas. Hal ini bercermin dari tradisi perguruan sejak dulu dalam melakukan sabung (pertarungan) yaitu dengan menggunakan full-body contact, yang mana setiap anggota tubuh adalah sasaran sah untuk diserang, kecuali mata dan kemaluan. Namun ternyata sistem pertarungan seperti itu tidak dapat diterapkan dalam pertandingan olahraga karena dapat mengakibatkan cidera, cacat permanen, bahkan kematian. Maka seiring dengan itu pula maka pasca Kejurnas I di Jember tahun 1967 itu sistem pertandingan olahraga Tapak Suci terus mengalami penyempurnaan demi penyempurnaan, sekalipun hingga beberapa dasawarsa ke depan kemudian, sistem pertandingan olahraga Tapak Suci tetap tidak menggunakan pelindung badan (body-protector), dengan pengertian bahwa “pelindung badan” pesilat Tapak Suci adalah keilmuan dan ketangkasan si pesilat. Pada Kejurnas I di Jember itu pun sudah diperlombakan pencak silat seni, yang mana yang dilombakan adalah Kerapihan Teknik Permainan.

 

Ketika Tapak Suci memantapkan diri dalam gerakan olahraga dan seni, keilmuan Tapak Suci ditampilkan melalui 4 aspek; mental-spiritual, olahraga, seni, dan beladiri. Adapun ilmu pengebalan tubuh ataupun anggota tubuh berupa alat penyasar, mulai ditinggalkan. Hal ini mengingat adanya anjuran dari Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah agar ilmu tersebut disimpan, kalau toh itu ilmu yan haq, akan tetapi dikhawatirkan dapat menjadi satu kesombongan. Hanya dengan Kuasa Allah dan kebesaran hati para sesepuh Tapak Suci sejak dulu itulah, sehingga Tapak Suci tidak mau menyombongkan keilmuannya.

 

Perguruan Historis IPSI

Pada masa-masa perkembangan Perguruan Tapak Suci yang telah merambah ke persada nusantara, maka dipandang perlu bagi Perguruan Tapak Suci untuk mencari induk organisasi pencak silat. Pada waktu itu sekurang-kurangnya ada tiga organisasi yang menamakan diri sebagai induk organisasi pencak silat Indonesia, yaitu: PPSI yang digerakkan dari Bandung, IPSI yang digerakkan dari Jakarta, dan BAPENSI yang digerakkan dari Yogyakarta, yang masing-masing mencari kekuatan pendukung.

 

Melalui Rapat Kerja Nasional yang dilaksanakan pada tanggal 19 s.d 20 April 1967 di Pekalongan, disamping memutuskan dan mengesahkan Anggaran Rumah Tangga, Tapak Suci berketetapan hati memilih Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (sekarang Ikatan Pencak Silat Indonesia) sebagai induk organisasi pencak silat. Untuk itu Tapak Suci didaftarkan kepada PB. IPSI dan langsung diterima menjadi anggota nasional. Kelak kemudian Tapak Suci didudukkan sebagai salah satu dari 10 Perguruan Historis IPSI, mengingat peran Tapak Suci yang menunjang tegak berdirinya PB. IPSI yang kala itu kondisinya sedang kritis.

 

Kiprah Tapak Suci

Maka kelak kiranya Tapak Suci menjalankan tugas dan peran yang tidak mudah. Di satu sisi Tapak Suci adalah organisasi dakwah yang berinduk ke Muhammadiyah. Di sisi lain Tapak Suci adalah organisasi pencak silat dengan induknya IPSI. Pada dimensi lainnya, Tapak Suci adalah sebuah ilmu beladiri, namun juga merupakan gerakan olahraga dan seni. Kiranya jati diri pendekar nasional ini tidak mudah dilalui. Akan sangat banyak godaan dan hambatan yang bisa saja membawa kepada kejayaan semu, kehinaan abadi. Hal ini menuntut organisasi dan keilmuan dapat seiring sejalan. Kelak itulah mengapa Sabuk yang terurai pada pesilat Tapak Suci, harus sama panjang di kedua sisi dan tepat jatuhnya di tengah, tidak lebih panjang di satu sisi saja.

 

Hingga saat ini insan TAPAK SUCI banyak berkiprah di dalam berbagai bidang pekerjaan, mulai dari pelajar, remaja, guru, ibu rumah tangga, olahragawan, petani, pedagang, buruh, kuli, hingga kepada insinyur, dokter, master kesehatan, master hukum, pengacara, militer, pengusaha, hingga politikus. Kesemuanya diharapkan membawa pesan-pesan Islami yang menyerukan keselamatan di dunia dan di akhirat, amar makruf nahi mungkar, dibalut dalam sosok kependekaran nasional yang mempertahankan martabat agama, bangsa, dan negara, mau bergaul, adaptif dan terbuka, seolah insan Tapak Suci senantiasa ada di setiap peta yang digambar orang.***

 

Sumber : http://pptapaksuci.org/

Penyempurnaan Teknik, Jurus dan Istilah

Diposting oleh Fithrorozi

Teknik dan istilah disempurnakan pada sidang teknik, jurus dan istilah Pencak Silat National pada Pra Musawarah nasional X, 19 September 1999 yang dihadiri oleh 26 Pengurus Daerah IPSI dan 9 Pengurus Khusus (IPSI 2000)

 

  1. Kuda-kuda Jenis bobot kuda-kuda ; kuda-kuda berat, kuda-kuda sedang, kuda-kuda ringan. Jenis bentuk kuda-kuda; kuda-kuda depan, belakang, tengah dan samping.  Jenis bentuk kuda-kuda Terbuka dan Tertutup yaitu 12 sikap pasang
  2. Langkah Jenis arah langkah; langkah lurus, langkah samping dan langkah serong.
    Teknik langkah; langkah angkatan, geser, seser dan lompatan.
  3. Serangan Tangan, Jenis pukulan; pukulan depan, pukulan samping, pukulan sangkol, pukulan lingkar. tebasan, tebangan, sangga, tamparan, kepret, tusukan, totokan, patukan, Cengkraman, gentusan, sikuan, tabrak, dobrakan. 
  4. Serangan kaki, Jenis tendangan; lurus, tusuk, kepret, jejak, gajul, T tumit, T telapak kaki, T sisi luar telapak kaki, celorong, belakang, kuda, taji, sabit, aling, hentak bawah, gejug. Sapuan kaki. Jenis teknik sapuan; sapu tegak, sapu kepret, sapu rebah, sapu sabetan, sapu bese

 

Dengkulan
Jenis teknis dengkulan; dengkul depan, dengkul samping luar, dengkul samping dalam  Guntingan  

 

5. Tangkapan

6. Kuncian

7. Bantingan

8. Jatuhan

9. Belaan tangkisan; tepis, gedik, kelit, siku, jepit atas, potong, sangga, galang, kepruk, kibas, lutut, tabrak.  Hindaran: elakan, egosan, kelitan
 

 

Jurus dan istilah pencak silat nasional ini merupakan hasil kerja team perumus teknik yang didirikan pada 1 Mei 1995.

 

 

http://www.kpsnusantara.com (Pencak Silat Nusantara )